Millennials dan Hutang

Sekilas tentang generasi Millennials atau generasi Y, mereka adalah kelompok orang yang lahir antara akhir 1980 dan awal tahun 1995. Jadi rentang umur generasi ini antara 22 sampai 37 tahun dan masuk ke dalam kategori usia sangat produktif.

Di rentang usia itu dari segi karir millennial bisa dikelompokkan ke dalam 3 fase.

  • Starting, untuk mereka yang baru mengawali karir setelah menyelesaikan kuliah 3, 4 bahkan sampai 7 tahun untuk gelar magister.
  • Nomad, untuk mereka yang masih sibuk berpindah-pindah pekerjaan untuk mencari tempat yang bisa memberikan progress karir dan financial yang terbaik, dan
  • Comfort untuk mereka yang sudah menikah, memiliki anak dan mulai memikirkan tempat untuk settled down.

Walaupun terlihat sedikit perbedaan, ternyata ketiga fase ini punya permasalahan yang sama yaitu urusan finansial.

Kondisi ekonomi dunia yang memburuk, memengaruhi kondisi inflasi di Indonesia. Ini membuat supply kebutuhan primer terbatas sementara demand meningkat drastis dari tahun ke tahun. Akhirnya harga-harga semakin mahal, termasuk kebutuhan rumah yang meningkat, kebutuhan moda transportasi alternatif untuk mereka yang sudah menikah dan mempunyai anak, sampai tantangan untuk meninggalkan comfort zone untuk memulai karis sebagai pebisnis Semuanya ini membuat generasi millennials mendapat pilihan sulit antara menabung atau berhutang.

Kemudahan untuk mendapatkan pinjaman kartu kredit, kredit tanpa agunan dan segala bentuk pembiayaan lain  membuat millennials semakin terjepit. Mulai dari handphone, sepeda motor, mobil, bahkan rumah punya opsi pembiayaan yang dibuat seperti memudahkan – dengan down payment ringan – tapi peminjamnya dibebani cicilan bulanan + bunga yang justru membebani.

Di satu sisi mereka ingin menabung, tapi urgency untuk satu kebutuhan membuat menabung tidak relevan lagi. Sementara di sisi lain bantuan financial dari bank itu diikuti dengan tanggung jawab bunga yang cukup besar, bahkan untuk beberapa kasus jumlah bunga hampir setengah dari total pinjaman.

Menurut penelitian, generasi ini sebenarnya suka menabung. Dibandingkan generasi sebelumnya, millennials diberikan keuntungan untuk mendapatkan gaji yang cukup besar bahkan untuk usia pekerjaan mereka. Sebagai contoh, gaji lulusan IT di beberapa perusahaan swasta di Jakarta – untuk usia pekerjaan 0 sampai 2 tahun – sudah melewati angka 5 juta rupiah. Dibandingkan dengan 7 tahun lalu yang masih sekitar 2 sampai 4 juta. Tapi dengan kemudahan mendapatkan dana talangan dari bank, millennials harus rela melepaskan setengah bahkan hampir 80 persen dari penghasilan mereka untuk membayar hutang.

Masalah lain adalah tantangan atau mungkin keharusan untuk bisa kaya raya sebelum umur 40 tahun, yang hanya bisa dicapai melalui bisnis – menjadi entrepreneur. Faktor itu juga dianggap memengaruhi jumlah hutang generasi millennials yang dibutuhkan untuk membuka usaha sendiri. Sementara hutang dan bunga itu harus dibayar setiap bulannya, bisnis yang baru dibuka biasanya belum mendapatkan keuntungan yang signifikan bahkan untuk dana operasional. Tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk melupakan mimpinya menjadi entrepreneur dan kembali menjadi karyawan.

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, millennials cenderung kurang sabar dalam urusan finansial dan karir. Hubungan sosial dan keterbukaan informasi juga membuat millennials seringkali membandingkan kondisi sosial mereka dengan orang lain yang sudah “sukses” sebelum mereka. Jadi untuk mengimbangi itu, millennials sering mengambil keputusan buru-buru dan salah satunya dengan berhutang tidak sesuai dengan kemampuan mereka untuk membayar.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan berhutang asal dananya digunakan untuk sesuatu yang produktif atau membantu kehidupan sehari-hari. Sayangnya millennials seringkali terjebak untuk menggunakan jasa pembiayaan dan pinjaman bank untuk hal-hal sepele yang pada akhirnya membuat mereka kesulitan untuk terlepas dari masalah finansial. Kebutuhan pinjaman untuk gengsi yang seharusnya ada di urutan terakhir kadang malah diletakkan pada posisi tertinggi yang akhirnya membuat generasi ini terlihat bergengsi tapi dengan kondisi keuangan yang berantakan.

Bagaimana menurut kamu, apakah hutang itu baik dan bagaimana caramu untuk menjaga kondisi finansialmu tetap terkontrol?

 

Advertisements

One thought on “Millennials dan Hutang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s